Pemerintah 'Kecolongan' Kasus Virus Corona di Indonesia

Terkuaknya kasus virus corona di Depok membuka mata, jika Indonesia tidak bebas dari serangan virus asal Wuhan, China ini. Pemerintah juga seolah-olah 'cuci tangan,' keberadaan virus ini di Indonesia.
Gambar tes virus corona
Gambar tes virus corona.

Lalu apakah benar pemerintah tidak tahu ada virus corona?

Menurut dokter Jaka Pradipta SP.P, ia menjelaskan hal tersebut di Twitter. Dalam kul-tweetnya ia menjelaskan seperti apa virus flu burung, bagaimana pemerintah bisa kecolongan, dan gejala serta  penanganan virus corona.

1. Pemerintah tidak tahu soal virus corona


Menurut dr. Jaka, tidak mungkin pemerintah menutup-nutupi kasus virus COVID-19 di Indonesia. Karena selama ini, suspect virus corona hanya mendapatkan pemantauan saja, yang terbukti negatif.

Dokter Jaka berpendapat, jika pemerintah tidak pernah memeriksakan secara rutin suspect virus corona secara rutin. "Ah ini karena kita tidak rutin memeriksakan virusnya!", "Gimana mau Ada kasus kalau tidak diperiksakan!?" Tulisnya dalam tweet.

Pemerintah juga disebut tidak menjelaskan secara jelas, sehingga media banyak salah dalam pemberitaannya. Seharusnya pemerintah juga jangan menyampaikan harga reagent mahal, atau malah jumawa kita 'zero cases.'

Baca juga: Mahasiswi kelaparan akibat virus corona

Seperti yang dialami oleh Fahira Idris yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya, bukan berarti menyebarkan hoaks. Tetapi ada kesalahfahaman masyarakat terhadap informasi akan virus corona COVID-19.

2. Pemantauan pasien virus corona


Kapan saat yang tepat seseorang diindikasikan terkena virus corona? Dokter Jaka lagi-lagi memberikan masukannya. Tidak semua pasien COVID-19 diperiksakan untuk virus corona. Tetapi ada ada panduan dari WHO kapan pasien dikategorikan pemantauan dan pengawasan.

Di Wuhan, China, penderita virus corona biasanya mengalami demam, batuk pilek dan juga pneumonia. Namun tidak semua pasien harus menunggu gejala pneumonia baru dimasukkan ke dalam tahap pengawasan.

"#COVID19indonesia akhirnya dapat ditemukan karena penelusuran kasus yang bersifat retrospektif. Kalo menunggu pasien muncul gejala hingga pneumonia ya sampai lebaran kuda," tulis dr. Jaka.

Tapi jika ada kasus masuknya Warga Negara Asing yang berasal dari negara terjangkit, yang harus dilakukan adalah pemantauan. Selama 2 minggu mereka harus dikarantina di rumah, diberikan obat, lapor ke puskesmas atau memeriksakan spesimen.

3. Gejala virus corona COVID-19


Pasien yang baru awal-awal terjangkit virus corona akan terlihat baik-baik saja. COVID-19 terlihat biasa, dengan gejala pilek demam atau radang paru. Sementara gagal napas hanya sedikit sekali gejalanya, namun jika sudah demikian potensi meninggal dunia sangat besar.

Kapan gejala virus corona menjadi berat? Jawabannya ketika daya tahan tubuh rendah. Baik dikarenakan usia, atau penyakit lainnya seperti HIV. Juga bagi mereka yang memiliki kencing manis, penyakit kardiovaskuler, gagal ginjal dan penyakit sistem imun lainnya.

Rata-rata, pasien yang dirawat dan diisolasi tidak menandakan gejala berat. Bahkan mereka bisa sambil tiduran, main tik tok, atau leyeh-leyeh sambil menonton televisi.

Baca juga: Ramuan herbal yang dipercaya obati virus corona

Intinya, virus ini tidak bisa menimbulkan gejala yang sangat berat. Namun tetap harus mawas diri. Apalagi penyebarannya sangat tinggi, dan bisa menimbulkan teror bagi warga sekitar.

4. Penanganan pasien virus corona


Jika Anda merasakan gejala-gejala yang cukup berat, jangan ragu untuk datang ke puskesmas. Istirahat total di rumah, untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama pemantauan.

Sementara untuk pemeriksaan, hanya bisa dilakukan melalui darah, apusan tenggorokan atau dahak. Bila negatif, maka harus kembali diulang dalam 24 jam berikunya. Hingga selama 2 minggu hasilnya negatif dan bebas dari virus corona.

Pengobatan virus corona saat ini yang direkomendasikan adalah obat malaria  (cloroquine) + darunavir (atau hiv) atau oseltamivir (antivirus flu burung) + atazanvir (anti hiv). Namun belum dipatenkan secara resmi di Indonesia.

Baca juga: Ribuan burung gagak ke Wuhan, Lokasi pertama virus corona

Jangan takut dengan virus corona, terlebih seperti kata Menteri Kesehatan, Terawan jika virus corona tidak seseram yang diberitakan. Virus ini hanya akan menjangkiti orang yang daya tahannya lemah atau rendah.

Yang perlu kita lakukan adalah menjaga kesehatan, mengatur pola makan yang baik, dan selalu menjaga kebersihan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel