Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stres bukan penyebab rambut beruban di usia 20an, tapi sel yang mengontrol warna rambut rusak oleh hormon, studi baru memperlihatkan hasilnya

  • Bahan kimia yang diproduksi oleh sistem saraf berjalan menuju folikel rambut
  • Sel induk yang bertugas mewarnai rambut menyerap bahan kimia dan rusak
  • Sel tidak bisa lagi memberi pigmen rambut saat tumbuh, dan efeknya beruban
  • Temuan menunjukkan bagaimana rambut beruban yang berhubungan dengan stres dapat dicegah

Penyebab rambut beruban di usia 20 dan 30 tahunan
Penyebab rambut beruban di usia 20 dan 30 tahunan.
Stres mungkin dianggap sebagai penyebab rambut beruban di usia 20an oleh sebagian orang. Tetapi stres tidak pernah menyebabkan rambut beruban.

Sebuah studi di Universitas Harvard yang dilakukan kepada hewan percobaan, tikus menemukan bahwa pelakunya adalah norepinefrin. Apa itu norepinefrin? Ini adalah hormon yang dilepaskan ketika tubuh masuk ke mode 'melawan atau melarikan diri'.

Baca juga: Cara menghilangkan uban dengan efektif

Di bawah tekanan besar, norepinefrin dilepaskan ke dalam aliran darah. Di mana ia meningkatkan detak jantung, dan mempersiapkan tubuh untuk bereaksi terhadap ancaman.

Tetapi dampaknya merusak sel induk melanosit (MSC), sel-sel kulit penghasil pigmen yang memberi warna rambut pada rambut.

Selain usia 20an, penyebab uban di di usia 30 tahun disangkakan kepada stres. Dan penyebab timbulnya uban sejak masa remaja, diyakini sebagian besar disebabkan oleh genetika.

Tetapi apakah stres dapat menyebabkan rambut berubah warna? Ini telah diperdebatkan oleh para ilmuwan selama bertahun-tahun.

Dikutip dari Daily Mail, peneliti senior mengatakan kebanyakan orang memiliki anekdot tentang bagaimana stres menyebabkan reaksi dalam tubuh.

"Terutama pada kulit dan rambut mereka - satu-satunya jaringan yang bisa kita lihat dari luar," kata Dr Ya-Chieh Hsu, profesor sel induk dan biologi regeneratif di Harvard.

"Kami ingin memahami apakah hubungan ini benar, dan jika demikian, bagaimana stres menyebabkan perubahan pada beragam jaringan," tambahnya.

Sementara itu, ilmuwan Harvard mengasah sistem saraf simpatik, yang sebagian bertanggung jawab atas respons melawan atau lari pada tubuh.

Ini mengarahkan tubuh bagaimana menanggapi situasi stres atau bahaya. Atau, meningkatkan denyut jantung dan mengirim darah ke otot.

Saraf simpatik bercabang ke dalam sel-sel kulit - termasuk folikel rambut - untuk mengumpulkan informasi tentang lingkungan.

Efek samping dari respons ini adalah bahwa mengubah kadar hormon dapat merusak fungsi sel.

Folikel rambut mengandung sel batang melanosit tertentu, yang mewarnai kulit dan rambut, dengan pigmen yang disebut melanin.

Baca juga: Cara mengatasi rambut rontok berlebihan

Dan tikus yang terpapar stres fisik atau psikologis, menunjukkan pengurangan jumlah sel induk melanosit dalam beberapa hari. Rambut mereka kemudian berubah warna lebih cepat.