Skip to main content

Tragis, Gajah Pingsan Lalu Mati Saat Membawa Wisatawan di Taman Safari

Gajah adalah salah satu sarana transportasi yang cukup banyak diminati wisatawan, saat berkunjung ke kebun binatang atau taman safari. Gajah termasuk hewan yang bisa berjalan di banyak medan, baik berlumpur hingga semak belukar.

Gajah mati di taman safari
Gajah mati di taman safari.
Hewan besar ini juga cukup ditakuti pemangsa, sehingga aman jika digunakan untuk menjelajahi konsep wisata alam liar seperti di taman safari. Mereka sangat penurut dan mematuhi perintah dari pawangnya.

Baca juga: Foto-foto mengerikan gajah kurus

Tapi ada satu kejadian tragis, di manan hewan yang satu ini telah dipaksa untuk membawa wisatawan hingga tewas mengenaskan. Sebuah rekaman menunjukkan, seekor gajah mati karena kelelahan setelah dipaksa membawa wisatawan.

Gajah mati membawa wisatawan di taman safari

Dikutip dari Daily mail, sebuah rekaman menunjukkan, seekor gajah telah mati karena kelelahan setelah dipaksa untuk membawa wisatawan dengan safari di Sri Lanka dalam keadaan panas.

Gajah berusia 18 tahun, bernama Kanakota, terlihat terbaring di semak-semak setelah ia pingsan saat mengangkut wisatawan dengan kakinya dibelenggu.

Dalam video itu, penduduk setempat dari kota terdekat Sigiriya memberikan penghormatan terakhir kepada hewan itu, yang mati pada 16 Oktober, lalu.

Mereka menepuk-nepuk bagian sisi tubuhnya, dan menutupi Kanakota dengan selembar kain saat hujan turun. Menurut juru kampanye hak-hak hewan, gajah itu telah membawa tiga kelompok wisatawan pada hari kematiannya.

Kanakota dilaporkan telah dipukul dengan bullhook - batang logam dengan paku tajam di ujungnya - yang digunakan oleh pawang untuk membantu mengendalikan gajah.

Baca juga: Pertarungan anak gajah melawan singa betina

Dengan membayar biaya sekitar Rp400 ribu, wisatawan akan dibawa ke benteng batu kuno di Sigiriya, yang biasanya memakan waktu perjalanan satu jam.

Gajah mengikuti parade kostum dengan beban berat

Kanakota juga juga telah mengikuti parade sehari sebelumnya.

Dalam parade seperti itu, hewan-hewan itu dibungkus dengan kostum yang rumit untuk membawa beban berat. Dan akan berjalan di sepanjang jalan yang ramai.

Mereka kemudian dikembalikan ke kamp-kamp, di mana mereka dipaksa untuk membawa wisatawan atau melakukan berbagai tugas kehutanan.

Para juru kampanye dari organisasi kesejahteraan, Moving Animals, meningkatkan kesadaran akan kekejaman yang diderita oleh hewan-hewan di wilayah tersebut.

Gajah tawanan dipaksa untuk bekerja di luar kehendak mereka, dan sering diisolasi dari gajah lain, dipelihara dengan dirantai dan dipukuli.

Paul Healey, dari Moving Animals, mengatakan kepada the Sun: "Kematian gajah yang tragis dan kejam ini sepenuhnya dapat dicegah. Sampai turis menolak untuk menunggang gajah, lebih banyak dari raksasa lembut ini akan terus menderita dan pingsan karena kelelahan."

Investigasi telah dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian gajah tersebut.

Baca juga: Salah buka pintu bocah 2 tahun diterkam macan tutul

World Animal Protection memperkirakan 3.000 gajah digunakan untuk hiburan di seluruh Asia, dengan 77 persen diperlakukan secara tidak manusiawi.


loading...
Loading...
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar